Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Di sini saya akan mengulas sedikit
tentang kekerasan yang dilakukan oleh oknum dari pendukung salah satu tim
ternama di Indonesia.
Baru-baru ini ramai sekali pemberitaan
tentang pembunuhan oleh oknum yang mengaku sebagai “Bobotoh” terhadap pemuda asal
Jakarta yang bernama Haringga, entah itu di televisi, Koran, social media
seperti instagram, facebook dll, semua memberitakan tentang tragedy yang tidak
manusiawi ini. Ironisnya, tidak hanya usia dewasa saja yang turut dalam
pemukulan itu. Anak di bawah umur pun turut serta dalam pemukulan yang terjadi
di stadion GBLA tersebut.
Bila kita bandingan mereka dengan
binatang, manusia semacam ini bisa dibilang lebih rendah dari binatang.
Mengapa?? Coba kita lihat ketika binatang yang sedang lapar lalu menyerang
mangsanya dengan beringas setelah itu mereka meninggalkan mangsanya jika sudah
merasa kenyang. Berbeda dengan manusia biadab ini, tidak hanya menghabisi nyawa
lawannya merekapun mencabik-cabik jasad dari Haringga yang sudah tidak berdaya,
bahkan dalam video yang beredar terihat jelas bahwa mereka menyeret dan menusuk
pantatnya dengan tongkat. Makhluk macam apa yang seperti ini?
Saya berpandangan bahwa kasus
semacam ini bukan kesalahan dari sepak bolanya, karena dalam Islam pun olah
raga semacam ini adalah hal mubah, sama seperti bersepeda dll. Ini semua karena
oknum tersebut sudah jauh dari Agamanya, mereka telah memisahkan antara Agama
dan kehidupan mereka. Mereka hanya tahu bahwa agama hanya mengatur hal ritual
saja padahal Islam itu agama sempurna, semua perbuatan tidak luput dari aturan
Islam. Kembali pada oknum tadi, saya beranggapan bahwa mereka itu manusia
yang GAGAL, karena mereka telah meninggalkan ajaran Islam. Allah subhanahu wa
ta'ala berfirman :
۞إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ
ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ٢٢
“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa
yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak
mendengar dan memahami kebenaran), yaitu orang orang yang tidak mengerti.” (Al
Anfaal : 22)
Mereka pun telah gagal memahami sebuah
ikatan. Mereka telah menjadikan faktor kesukuan, kebangsaan, ketanahairan dan
kekelompokkan sebagai ikatan mereka. Bahkan seorang ulama besar Syaikh
Taqiyuddin an-Nabhani menyebut ikatan ketanahairan sebagai kemunduran, dan
ikatan kesukuan sebagai ikatan yang paling rendah dalam kehidupan manusia.
Penyakit fanatisme kelompok merupakan
PR kita bersama, bukan saja dalam dunia sepak bola bahkan penyakit ini pun
sudah menjangkit dalam gerakan/partai islam. Belakangan ini sering terjadi
persekusi terhadap ustadz yang bukan berasal dari kelompoknya, mereka melabeli
ustadz itu dengan sebutan, “anti NKRI, anti pancasila, atau wahabi”. Dengan
melabeli itu seolah-olah mereka berhak menghakimi orang lain. Padahal yang
mereka persekusi pun se-aqidah dengan mereka yaitu Islam. Ajaran Islam sudah
menghapus semua ikatan yang rusak itu dan menggantinya dengan ukhuwah islamiyyah.
Hari ini, Islam hanya dipandang
sebagai agama yang mengatur ibadah ritual saja dan mengabaikan tentang
kehidupan social dan bermasyarakat. Ini akibat dari sekulerisme (pemisahan
agama dari kehidupan). Islam sudah tidak dipandang lagi sebagai Ideologi yang
mengatur seluruh urusan mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, mulai
dari ibadah ritual hingga kehidupan social. Semua sudah diaturan dalam Islam.
Saya ingin menyampaikan satu hal
,kita harus kembali pada Islam dan yakinlah
hanya Islam lah yang teruji telah berhasil membuat manusia menjadi
manusia seutuhnya.