Jumat, 28 September 2018

Fanatisme Berujung Kekerasan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Di sini saya akan mengulas sedikit tentang kekerasan yang dilakukan oleh oknum dari pendukung salah satu tim ternama di Indonesia.

Baru-baru ini ramai sekali pemberitaan tentang pembunuhan oleh oknum yang mengaku sebagai “Bobotoh” terhadap pemuda asal Jakarta yang bernama Haringga, entah itu di televisi, Koran, social media seperti instagram, facebook dll, semua memberitakan tentang tragedy yang tidak manusiawi ini. Ironisnya, tidak hanya usia dewasa saja yang turut dalam pemukulan itu. Anak di bawah umur pun turut serta dalam pemukulan yang terjadi di stadion GBLA tersebut.

Bila kita bandingan mereka dengan binatang, manusia semacam ini bisa dibilang lebih rendah dari binatang. Mengapa?? Coba kita lihat ketika binatang yang sedang lapar lalu menyerang mangsanya dengan beringas setelah itu mereka meninggalkan mangsanya jika sudah merasa kenyang. Berbeda dengan manusia biadab ini, tidak hanya menghabisi nyawa lawannya merekapun mencabik-cabik jasad dari Haringga yang sudah tidak berdaya, bahkan dalam video yang beredar terihat jelas bahwa mereka menyeret dan menusuk pantatnya dengan tongkat. Makhluk macam apa yang seperti ini?

Saya berpandangan bahwa kasus semacam ini bukan kesalahan dari sepak bolanya, karena dalam Islam pun olah raga semacam ini adalah hal mubah, sama seperti bersepeda dll. Ini semua karena oknum tersebut sudah jauh dari Agamanya, mereka telah memisahkan antara Agama dan kehidupan mereka. Mereka hanya tahu bahwa agama hanya mengatur hal ritual saja padahal Islam itu agama sempurna, semua perbuatan tidak luput dari aturan Islam. Kembali pada oknum tadi, saya beranggapan bahwa mereka itu manusia yang GAGAL, karena mereka telah meninggalkan ajaran Islam. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :

۞إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ ٢٢

“Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mendengar dan memahami kebenaran), yaitu orang orang yang tidak mengerti.” (Al Anfaal : 22)

Mereka pun telah gagal memahami sebuah ikatan. Mereka telah menjadikan faktor kesukuan, kebangsaan, ketanahairan dan kekelompokkan sebagai ikatan mereka. Bahkan seorang ulama besar Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menyebut ikatan ketanahairan sebagai kemunduran, dan ikatan kesukuan sebagai ikatan yang paling rendah dalam kehidupan manusia.

Penyakit fanatisme kelompok merupakan PR kita bersama, bukan saja dalam dunia sepak bola bahkan penyakit ini pun sudah menjangkit dalam gerakan/partai islam. Belakangan ini sering terjadi persekusi terhadap ustadz yang bukan berasal dari kelompoknya, mereka melabeli ustadz itu dengan sebutan, “anti NKRI, anti pancasila, atau wahabi”. Dengan melabeli itu seolah-olah mereka berhak menghakimi orang lain. Padahal yang mereka persekusi pun se-aqidah dengan mereka yaitu Islam. Ajaran Islam sudah menghapus semua ikatan yang rusak itu dan menggantinya dengan ukhuwah islamiyyah.

Hari ini, Islam hanya dipandang sebagai agama yang mengatur ibadah ritual saja dan mengabaikan tentang kehidupan social dan bermasyarakat. Ini akibat dari sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Islam sudah tidak dipandang lagi sebagai Ideologi yang mengatur seluruh urusan mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur, mulai dari ibadah ritual hingga kehidupan social. Semua sudah diaturan dalam Islam.

Saya ingin menyampaikan satu hal ,kita harus kembali pada Islam dan yakinlah  hanya Islam lah yang teruji telah berhasil membuat manusia menjadi manusia seutuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar