Senin, 15 Oktober 2018

PINDAH KUBU


PINDAH KUBU

Oleh : H.M. Ismail Yusanto (Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia)

Pindah kubu. Inilah fenomena yang tampaknya akan makin banyak menghiasi layar politik di negeri kita ini. Apalagi jelang Pilpres. Dulu di kubu A, lawan kubu B. Sekarang berbalik. Ada di kubu B. Menjadi lawan kubu A yang dulu menjadi kawannya. Fenomena pindah-pindah kubu seakan membenarkan adagium dalam politik pragmatis: Tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada adalah kepentingan sendiri.

Fenomena pindah kubu juga seakan membenarkan kecenderungan para politisi menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan. Mereka acap disebut politisi machiavelis. Diambil dari nama Niccolo Machiavelli. Dalam wacana politik, Machiavelli adalah orang paling banyak dikecam, tetapi sekaligus anjurannya paling banyak diikuti.

Machiavellilah, melalu bukunya yang terkenal II Principe (The prince – Sang Pangeran), yang pertama kali mendiskusikan fenomena social-politik tanpa merujuk pada sumber-sumber etis ataupun hukum. Inilah pendekatan pertama yang bersifat murni saintifik terhadap politik. Bagi Machiavelli, politik hanya berkaitan dengan satu hal: bagaimana memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Agama dan moralitas, yang selama ini dikaitkan dengan politik, menurut dia, tidaklah memiliki hubungan mendasar dengan politik. Agama dan moral hanya digunakan secara pragmatis untuk mendapat dan mempertahankan kekuasaan itu.

Dalam bukunya itu, Machiavelli menguraikan tindakan yang perlu dilakukan seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan. Isu utama dalam buku ini adalah bahwa semua cara bisa dilakukan untuk membangun dan melestarikan kekuasaan. Penolakan Machiacvelli terhadap etika dalam politik mengakibatkan dirinya disebut anti-kristus. Karena itu nama yang buruk: anjuran menghalalkan cara untuk memgang kekuasaan. Menurut Machiavelli, adalah seseorang yang dapat melakukan berbagai tindakan dari yang baik hingga yang buruk. Bahkan Leo Srauss (1957) menyatakan Machiavelli adalah pengajar kejahatan atau immoralism dan ammoralism. Sebabnya, Machiavelli menghindar dari nilai keadilan. Kasih sayang, kearifan serta cinta. Dia lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan, ketakutan dan penindasan.

*****

Pindah kubu dan penghalalan segara cara bukanlah fenomena baru. Itu juga terjadi pada masa Nabi 14 abad silam. Diceritakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, pada siang hari yang terik, Rasulullah saw. Mengabarkan, “Sungguh di antara kalian ada seseorang laki-laki yang kelak gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Semua sahabat yang hadir dalam majelis kemudian diliputi kecemasan dari hari ke hari. Lalu syahidlah mereka satu persatu. Akhirnya tinggal dua orang tersisa. Ar-Rajjal bin Unfuwah dan Abu Hurairah ra.

Waktu terus berjalan. Abu Hurairah ra. Begitu ketakutan. Semua Sahabat yang pernah hadir pada majelis itu sudah wafat dalam keadaan husnul khatimah. Abu Hurairah ra khawatir jika sampai dia menjadi orang yang dikabarkan Rasulullah saw. Tersebut.

Kemudian tibalah masa pemerintahan Khalifah Abubakar ra. Saat itu muncul nabi palsu bernama Musailamah. Dia kemudian diberi gelar sebagai al-Kadzdzab (sang pendusta). Keadaannya makin hari makin mengkhawatirkan karena pengikutnya kian hari kian bertambah banyak.  Mereka punya “al-Quran baru”, membawa “Islam baru”. Dipimpin oleh seorang nabi palsu. Sebab itulah Khalifah Abu Bakar ra. Memerangi mereka habis-habisan.

Ar-Rajjal bin Unfuwah adalah sahabat yang hapal al-Quran. Hidup dan berjuang bersama Rasulullah saw. Sudah berapa kali diutus untuk mendakwahkan islam di berbagai daerah. Akhirnya, dia meminta kepada Khalifah Abubakar agar dia dikirim untuk menemui dan mendakwahi Musailamah . Khalifah pun memberi ijin. Berangkatlah Ar-Rajjal menemui nabi palsu ini.

Lalu apa yang kemudian terjadi? Alih-Alih mendakwahi Musailamah, Ar-Rajjal justru menjadi bimbang. Dia melihat jumlah pengikut Musailamah sangat banyak. Di sana dia mendapat tawaran menggiurkan disertai argument Musailamah yang dirasa masuk akal. Ar-Rajjal goyah, Akhirnya, dia mengkhianati kepercayaan Khalifah. Dia membelot. Mulai saat itu Ar-Rajjal berpindah kubu. Menjadi pengikut Musailamah al-Kadzdzab.

Bergabunglah Ar-Rajjal semakin memberikan semangat kepada pasukan nabi palsu itu. Mereka semakin mantap. Lihatlah, Ar-Rajjal, sahabat Nabi saw., hafidz Quran dan pernah berjuang bersama beliau pun sekarang berada dibarisan Musailamah. Pengikut Musailamah semakin banyak dan rasa percaya diri mereka semakin meninggi. Mereka seakan mendapatkan angina segar dengan bergabungnya seorang tokoh utama dari kalangan sahabat.

Di sisi lain, Abu Hurairah merasa lega. Sebabnya, sekarang sudah jelas siapa yang dimaksud oleh Rasulullah saw. yang gigi gerahamnya di neraka sebesar Gunung Uhud. Umat Islam pada waktu itu juga semakin bersemangat. Mereka makin yakin bahwa mereka di kubu yang benar berdasarkan hadits yang dibawa dari Abu Hurairah tadi. Semakin panaslah antara dua kubu: kubu kubu kebenaran dan kubu kebatilan.  Masing-masing memiliki kekuatan yang besar. Namun, tentu umat memiliki kekuatan yang jauh lebih besar yang tidak dimiliki oleh pasukan Musailamah, yakni pertolongan dari Allah Yang Mahakuat.

“Sungguh fitnah Ar-Rajjal lebih besar dari fitnah yang ditimbulkan oleh Musaillamah.” Ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya, dari Abu Hurairah. Perkataan Abu Hurairah yang mengatakan bahwa fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah lebih besar dari Musailamah ini disebabkan oleh akibat yang ditimbulkan sangatlah besar. Mengapa? Karena sejak Ar-Rajjal bin Unfuwah membela Musailamah, Pengikut nabi palsu ini semakin yakin kepada Musailamah dan semakin bertambah banyak jumlahnya. Di sinilah fitnah terbesar itu.

Akhirnya, ketika perang berkecamuk antara kaum Muslim dan pasukan Musailamah, Ar-Rajjal berhasil dibunuh oleh Zaid bin al-Khaththab ra. (Kakak tertua Umar bin al-Khaththab ra.).

*****

Begitulah dalam perjuangan selalu saja ada hal-hal yang tidak terduga terjadi. Ada masanya kita berjuang bersama sahabat kita. Namun dikemudian hari ia berpindah kubu dan menjelma menjadi lawan yang sangat nyata. Tidak usah risau jika sahabat juang kita berpindah kubu. Pasti Allah akan selalu mengahdirkan kepada kita sahabat juang yang baru.

Karena itu, dalam berjuang kita harus menyadari dan meyakini betul, untuk apa dan dengan landasan apa kita berjuang. Dari sekian ragam perjuangan, tetap saja pilihannya tinggal hanya dua: lillah (demi Allah) dan li ghayrillah (untuk selain Allah).  Yakinkan diri, bahwa kita memang benar-benar berjuang lillah,  bukan li ghayrillah. Bila kita sudah yakin bahwa perjuangan ini lillah, mengapa pula harus menggunakan Machiavellis, apalagi sampai pindah kubu ke kubu li ghayrilLah? Enggaklah …

Alhasil, Politisasi Islam No. Islamisasi Politik Yes!

Sumber : Al-wa’ie (Muharram, 1-31 Oktober 2018) hal 25-27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar