PINDAH KUBU
Oleh : H.M. Ismail Yusanto (Juru bicara Hizbut Tahrir
Indonesia)
Pindah kubu.
Inilah fenomena yang tampaknya akan makin banyak menghiasi layar politik di
negeri kita ini. Apalagi jelang Pilpres. Dulu di kubu A, lawan kubu B. Sekarang
berbalik. Ada di kubu B. Menjadi lawan kubu A yang dulu menjadi kawannya.
Fenomena pindah-pindah kubu seakan membenarkan adagium dalam politik pragmatis:
Tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada adalah kepentingan sendiri.
Fenomena pindah
kubu juga seakan membenarkan kecenderungan para politisi menghalalkan segala
cara dalam meraih tujuan. Mereka acap disebut politisi machiavelis. Diambil
dari nama Niccolo Machiavelli. Dalam wacana politik, Machiavelli adalah orang
paling banyak dikecam, tetapi sekaligus anjurannya paling banyak diikuti.
Machiavellilah,
melalu bukunya yang terkenal II Principe
(The prince – Sang Pangeran), yang pertama kali mendiskusikan fenomena
social-politik tanpa merujuk pada sumber-sumber etis ataupun hukum. Inilah
pendekatan pertama yang bersifat murni saintifik terhadap politik. Bagi
Machiavelli, politik hanya berkaitan dengan satu hal: bagaimana memperoleh dan
mempertahankan kekuasaan. Agama dan moralitas, yang selama ini dikaitkan dengan
politik, menurut dia, tidaklah memiliki hubungan mendasar dengan politik. Agama
dan moral hanya digunakan secara pragmatis untuk mendapat dan mempertahankan
kekuasaan itu.
Dalam bukunya
itu, Machiavelli menguraikan tindakan yang perlu dilakukan seseorang untuk
mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan. Isu utama dalam buku ini adalah
bahwa semua cara bisa dilakukan untuk membangun dan melestarikan kekuasaan.
Penolakan Machiacvelli terhadap etika dalam politik mengakibatkan dirinya
disebut anti-kristus. Karena itu nama yang buruk: anjuran menghalalkan cara
untuk memgang kekuasaan. Menurut Machiavelli, adalah seseorang yang dapat
melakukan berbagai tindakan dari yang baik hingga yang buruk. Bahkan Leo Srauss
(1957) menyatakan Machiavelli adalah pengajar kejahatan atau immoralism dan
ammoralism. Sebabnya, Machiavelli menghindar dari nilai keadilan. Kasih sayang,
kearifan serta cinta. Dia lebih cenderung mengajarkan kekejaman, kekerasan,
ketakutan dan penindasan.
*****
Pindah kubu dan
penghalalan segara cara bukanlah fenomena baru. Itu juga terjadi pada masa Nabi
14 abad silam. Diceritakan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, pada siang hari yang terik, Rasulullah
saw. Mengabarkan, “Sungguh di antara
kalian ada seseorang laki-laki yang kelak gigi gerahamnya di neraka lebih besar
dari Gunung Uhud.”
Semua sahabat
yang hadir dalam majelis kemudian diliputi kecemasan dari hari ke hari. Lalu
syahidlah mereka satu persatu. Akhirnya tinggal dua orang tersisa. Ar-Rajjal
bin Unfuwah dan Abu Hurairah ra.
Waktu terus
berjalan. Abu Hurairah ra. Begitu ketakutan. Semua Sahabat yang pernah hadir
pada majelis itu sudah wafat dalam keadaan husnul khatimah. Abu Hurairah ra
khawatir jika sampai dia menjadi orang yang dikabarkan Rasulullah saw.
Tersebut.
Kemudian
tibalah masa pemerintahan Khalifah Abubakar ra. Saat itu muncul nabi palsu
bernama Musailamah. Dia kemudian diberi gelar sebagai al-Kadzdzab (sang
pendusta). Keadaannya makin hari makin mengkhawatirkan karena pengikutnya kian
hari kian bertambah banyak. Mereka punya
“al-Quran baru”, membawa “Islam baru”. Dipimpin oleh seorang nabi palsu. Sebab
itulah Khalifah Abu Bakar ra. Memerangi mereka habis-habisan.
Ar-Rajjal bin
Unfuwah adalah sahabat yang hapal al-Quran. Hidup dan berjuang bersama
Rasulullah saw. Sudah berapa kali diutus untuk mendakwahkan islam di berbagai
daerah. Akhirnya, dia meminta kepada Khalifah Abubakar agar dia dikirim untuk
menemui dan mendakwahi Musailamah . Khalifah pun memberi ijin. Berangkatlah
Ar-Rajjal menemui nabi palsu ini.
Lalu apa yang
kemudian terjadi? Alih-Alih mendakwahi Musailamah, Ar-Rajjal justru menjadi
bimbang. Dia melihat jumlah pengikut Musailamah sangat banyak. Di sana dia
mendapat tawaran menggiurkan disertai argument Musailamah yang dirasa masuk
akal. Ar-Rajjal goyah, Akhirnya, dia mengkhianati kepercayaan Khalifah. Dia membelot.
Mulai saat itu Ar-Rajjal berpindah kubu. Menjadi pengikut Musailamah
al-Kadzdzab.
Bergabunglah
Ar-Rajjal semakin memberikan semangat kepada pasukan nabi palsu itu. Mereka
semakin mantap. Lihatlah, Ar-Rajjal, sahabat Nabi saw., hafidz Quran dan pernah
berjuang bersama beliau pun sekarang berada dibarisan Musailamah. Pengikut
Musailamah semakin banyak dan rasa percaya diri mereka semakin meninggi. Mereka
seakan mendapatkan angina segar dengan bergabungnya seorang tokoh utama dari
kalangan sahabat.
Di sisi lain,
Abu Hurairah merasa lega. Sebabnya, sekarang sudah jelas siapa yang dimaksud
oleh Rasulullah saw. yang gigi gerahamnya di neraka sebesar Gunung Uhud. Umat
Islam pada waktu itu juga semakin bersemangat. Mereka makin yakin bahwa mereka
di kubu yang benar berdasarkan hadits yang dibawa dari Abu Hurairah tadi.
Semakin panaslah antara dua kubu: kubu kubu kebenaran dan kubu kebatilan. Masing-masing memiliki kekuatan yang besar.
Namun, tentu umat memiliki kekuatan yang jauh lebih besar yang tidak dimiliki
oleh pasukan Musailamah, yakni pertolongan dari Allah Yang Mahakuat.
“Sungguh fitnah Ar-Rajjal lebih besar dari
fitnah yang ditimbulkan oleh Musaillamah.” Ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq
dari gurunya, dari Abu Hurairah. Perkataan Abu Hurairah yang mengatakan bahwa
fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah lebih besar dari Musailamah ini disebabkan oleh
akibat yang ditimbulkan sangatlah besar. Mengapa? Karena sejak Ar-Rajjal bin
Unfuwah membela Musailamah, Pengikut nabi palsu ini semakin yakin kepada
Musailamah dan semakin bertambah banyak jumlahnya. Di sinilah fitnah terbesar
itu.
Akhirnya,
ketika perang berkecamuk antara kaum Muslim dan pasukan Musailamah, Ar-Rajjal
berhasil dibunuh oleh Zaid bin al-Khaththab ra. (Kakak tertua Umar bin
al-Khaththab ra.).
*****
Begitulah dalam
perjuangan selalu saja ada hal-hal yang tidak terduga terjadi. Ada masanya kita
berjuang bersama sahabat kita. Namun dikemudian hari ia berpindah kubu dan
menjelma menjadi lawan yang sangat nyata. Tidak usah risau jika sahabat juang
kita berpindah kubu. Pasti Allah akan selalu mengahdirkan kepada kita sahabat
juang yang baru.
Karena itu,
dalam berjuang kita harus menyadari dan meyakini betul, untuk apa dan dengan
landasan apa kita berjuang. Dari sekian ragam perjuangan, tetap saja pilihannya
tinggal hanya dua: lillah (demi
Allah) dan li ghayrillah (untuk
selain Allah). Yakinkan diri, bahwa kita
memang benar-benar berjuang lillah, bukan li
ghayrillah. Bila kita sudah yakin bahwa perjuangan ini lillah, mengapa pula harus menggunakan Machiavellis, apalagi sampai
pindah kubu ke kubu li ghayrilLah?
Enggaklah …
Alhasil, Politisasi
Islam No. Islamisasi Politik Yes!
Sumber : Al-wa’ie (Muharram, 1-31 Oktober 2018) hal 25-27
Tidak ada komentar:
Posting Komentar